BALIKPAPAN — Di tepian Teluk Balikpapan, tepatnya di Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara, kini berdiri dua bangunan raksasa berwarna putih mencolok. Bukan gedung atau menara, melainkan dua tangki penyimpanan minyak berkapasitas raksasa yang menjadi ikon baru dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia. Kedua tangki tersebut dibangun sebagai bagian dari Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, yang digagas untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi kilang minyak Pertamina.
Tangki ini masing-masing mampu menampung 100 ribu kiloliter (KL) minyak mentah atau 1 juta barrel. Dengan ukuran yang sedemikian besar, masyarakat sekitar menyebutnya “raksasa putih Lawe-Lawe.” Keberadaannya bukan hanya tampak monumental secara fisik, tetapi juga strategis untuk industri energi nasional. Di tengah tantangan global terkait pasokan minyak, kemampuan Indonesia memperkuat cadangan dan kelancaran distribusi energi menjadi sangat penting.
“Fasilitas ini akan meningkatkan ketahanan pasokan dalam negeri. Minyak mentah yang disimpan di sini tidak hanya untuk Kalimantan Timur, tetapi juga menopang kebutuhan nasional,” ujar seorang pejabat teknis SKK Migas Perwakilan Kalimantan & Sulawesi, dalam sesi kunjungan lapangan di lokasi, baru-baru ini.
Proyek pembangunan dua tangki ini berlangsung dengan kompleksitas tinggi. Lokasinya berada di pesisir yang menuntut rekayasa struktur kuat, terutama menghadapi kondisi tanah dan lingkungan laut. Proses konstruksinya melibatkan ribuan pekerja, puluhan kontraktor, serta teknologi fabrikasi berstandar internasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan Pertamina berkomitmen terus meningkatkan kapasitas kilang pengolahan untuk mendukung kebutuhan BBM domestik dan terwujudnya swasembada energi nasional. Tangki pada storage Pertamina Lawe-lawe menjadi salah satu kekuatan baru, terutama untuk memenuhi kebutuhan Kilang Balikpapan yang dalam waktu dekat akan meningkat, sejalan dengan selesainya program RDMP Kilang Balikpapan pada akhir tahun 2025.
“Kilang-kilang Pertamina telah memenuhi 70 persen kebutuhan BBM dalam negeri. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, didukung tangki raksasa Lawe-Lawe, akan meningkatkan kekuatan Pertamina untuk memasok BBM secara nasional,” ujar Fadjar.
Warga sekitar pun merasakan geliat pembangunan tersebut. Warung makan, jasa angkutan hingga usaha penyewaan rumah kos mendapat dampak ekonomi yang nyata. “Dari dulu Lawe-Lawe ini tenang saja, tapi sejak proyek berjalan, banyak yang datang dan ekonomi lebih hidup,” kata Suriadi, warga Kelurahan Lawe-Lawe.
Namun, tak hanya soal fisik dan ekonomi, proyek ini juga membawa pesan strategis: Indonesia berkomitmen untuk berdaulat energi. Selama ini, kebutuhan energi nasional masih sangat dipengaruhi kondisi pasar internasional. Dengan memperbesar kapasitas penyimpanan dan meningkatkan kemampuan pengolahan kilang, risiko gejolak pasokan dapat ditekan.
Dalam jangka panjang, keberadaan dua tangki raksasa di Lawe-Lawe akan mendukung proses modernisasi Kilang Balikpapan yang kapasitas produksinya ditingkatkan hingga sekitar 360 ribu barel per hari. Artinya, kebutuhan BBM nasional dapat dipenuhi lebih optimal, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
“Ini bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi simbol komitmen bahwa Indonesia mampu mengelola sumber daya energi dengan mandiri,” ujar seorang analis energi Universitas Balikpapan.
Menatap laut yang tenang dan dua raksasa putih yang berdiri gagah di belakangnya, Lawe-Lawe kini bukan hanya sebuah kawasan pesisir. Ia telah menjadi saksi bagaimana masa depan energi negeri ini dirajut ‘pelan namun pasti’ menuju ketahanan, kemandirian, dan keberlanjutan energi nasional. Industri hulu migas menopang kejayaan bangsa.*** (Yuyun Darojatun)


