BALIKPAPAN, CerdasNews.id — Langit Balikpapan yang tampak teduh oleh naungan Ramadan, sebuah simfoni kepedulian mengalun tanpa suara, namun getarannya terasa hingga ke relung jiwa. Sabtu (14/3/2026), ketika matahari perlahan merunduk, para perajut kabar yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Balikpapan sejenak meletakkan pena dan kamera mereka. Bukan untuk memburu berita, melainkan untuk menjemput berkah melalui jabat tangan yang hangat.
Dalam kesederhanaan yang khidmat, para jurnalis ini melangkah menuju rumah bagi mereka yang melihat dunia dengan mata batin: Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Balikpapan. Di sana, sebuah pertemuan yang melampaui sekadar serah terima bingkisan terjadi—sebuah perjumpaan antara hati yang ingin memberi dan jiwa yang tabah menerima.
Ketua PWI Balikpapan, Debi, menyerahkan bingkisan tersebut langsung kepada Salman, perwakilan pengurus Pertuni. Tak ada kemewahan yang berlebihan, namun ada ketulusan yang meluap. Bagi Debi, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan tentang bagaimana menghidupkan kembali denyut kemanusiaan.
“Kami hadir di sini membawa sedikit buah tangan, namun yang lebih utama adalah membawa hati. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk kita saling mengeratkan jemari, memastikan tak ada yang merasa sendirian dalam perjuangannya,” tutur Debi dengan nada yang lembut namun penuh keyakinan.

Ia pun menyadari bahwa materi mungkin memiliki batas, namun doa dan perhatian adalah bahasa yang tak akan pernah habis maknanya. “Jangan dilihat dari besarnya pemberian, tapi lihatlah ini sebagai jembatan rasa peduli kami kepada saudara-saudara sekalian,” tambahnya.
Di sisi lain, Salman menerima kunjungan tersebut dengan senyum yang tulus. Baginya dan rekan-rekan di Pertuni, kehadiran PWI bukan sekadar tentang isi di dalam bingkisan, melainkan tentang pengakuan bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari napas kota ini.
“Ini adalah bantuan kedua yang kami terima setelah sebelumnya Pak Wali Kota, Rahmad, juga hadir menyapa kami,” ungkap Salman.
Di balik matanya yang tak menatap cahaya, terpancar binar kebahagiaan yang sulit digambarkan. Dukungan moral ini, menurutnya, adalah pelita bagi semangat mereka untuk terus melangkah.
Melalui aksi kecil ini, PWI Balikpapan seolah sedang menulis berita yang tak akan pernah basi: berita tentang cinta kasih. Mereka berharap, jejak kecil ini bisa menjadi pemantik bagi pihak lain untuk melakukan hal serupa. Karena pada akhirnya, indahnya Ramadan tidak hanya terletak pada cahaya lampu hias di jalanan, melainkan pada cahaya harapan yang kita nyalakan di hati orang lain.
Sebuah sore di bulan suci ditutup dengan doa-doa yang melangit, membuktikan bahwa meski mata tak melihat, cinta selalu tahu ke mana ia harus pulang. **(Ydar)


