Cerdasnews.id — Kota yang dulu kita kenal sebagai pelukis fajar yang tenang, kini tampak sedang gelisah. Di bawah langit yang kian muram, kota ini seolah sedang bertaruh dengan waktu. Kita melihatnya di setiap sudut: alat-alat berat yang mencakar bumi, aspal yang mengkilap, dan tumpukan beton yang dijanjikan sebagai penyelamat. Salah satunya, megaproyek DAS Ampal, sebuah monumen harapan dengan angka-angka miliaran yang memenuhi kolom berita.
Namun, saat awan hitam mulai berarak dan langit tumpah, janji-janji itu seolah hanyut terbawa arus coklat yang kental.
Ada sebuah kepedihan yang sulit dijelaskan ketika kita melihat seorang ayah yang terlihat lusuh, dengan sisa tenaga setelah seharian bekerja, harus menerjang genangan setinggi betis di jalanan yang katanya, sudah direhabilitasi.
Ada duka yang bisu di mata seorang ibu yang melihat perabot rumahnya, hasil jerih payah bertahun-tahun, kembali harus bersahabat dengan lumpur dan air yang tak diundang. Padahal, tepat di depan rumah mereka, drainase baru telah berdiri dengan angkuh.
Mengapa air tetap memilih masuk ke ruang tamu kita, meski rumah kita telah dikelilingi beton mahal?
Mungkin karena kita terlalu sibuk memuja pembangunan hingga lupa pada kehidupan.
Kita memperlebar parit, tapi kita menyempitkan ruang napas bumi. Kita membangun jalan-jalan besar untuk menyambut masa depan yang megah, namun kita memangkas bukit-bukit yang selama ini menjadi pelindung alami kita. DAS Ampal kian dalam digali, namun di saat yang sama, hati warga kian was-was setiap kali rintik hujan pertama jatuh membasahi bumi.
Kita seolah sedang mengobati luka besar dengan selembar kain kecil. Anggaran yang besar tak akan pernah cukup jika kita hanya melihat banjir sebagai masalah teknis aliran dan semen. Banjir adalah jeritan alam yang ruang geraknya terampas, dan ia adalah air mata warga yang merasa terabaikan di tengah kemegahan yang sedang dibangun.
Sampai kapan kita harus merayakan progres pembangunan dengan sepatu yang basah dan hati yang cemas?
Balikpapan butuh lebih dari sekadar drainase yang luas; ia butuh nurani dalam menata ruang. Ia butuh kejujuran untuk mengakui bahwa ada yang salah dalam cara kita memperlakukan tanah tempat kita berpijak.
Sebab, pada akhirnya, kemajuan sebuah kota tidak diukur dari seberapa banyak beton yang kita tanam, melainkan dari seberapa nyenyak warga bisa tidur saat hujan deras turun di tengah malam.
Semoga besok, saat hujan kembali menyapa, air tak lagi membawa duka, melainkan kehidupan yang seharusnya ia berikan memberikan kenyamanan dan keteduhan hati. ** Balikpapan, 19 April 2026.***


