ACEH BARAT, Cerdasnews.id – Buah rumbia yang dahulu menjadi salah satu komoditas khas Kabupaten Aceh Barat kini nyaris hanya tinggal kenangan. Selama sekitar 17 tahun terakhir, tanaman rumbia di daerah tersebut dilaporkan tidak lagi menghasilkan buah, sehingga berdampak pada pelaku usaha kuliner tradisional yang selama ini mengandalkan buah tersebut sebagai bahan utama.
Salah seorang penjual rujak di Meulaboh, Evi, mengaku kesulitan mempertahankan cita rasa rujak khas yang selama ini dikenal masyarakat karena tidak lagi tersedia buah rumbia.
“Selama buah rumbia tidak ada lagi berbuah, kami terpaksa mencampur bahan lain seperti buah sawo dan buah lainnya. Namun rasanya tidak sesedap seperti dulu ketika masih menggunakan buah rumbia,” ujar Evi kepada CerdasNews.id, Kamis (5/6/2026).
Menurutnya, buah rumbia memiliki karakter rasa yang khas dan sulit digantikan oleh jenis buah lain. Kondisi tersebut membuat sebagian penikmat rujak merasakan perbedaan cita rasa dibandingkan beberapa tahun lalu.
Sementara itu, warga Dusun Monkulu, Gampong Ladang, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Adi Kasman, menjelaskan bahwa tanaman rumbia yang telah tumbuh tinggi umumnya dikenal masyarakat sebagai batang sagu.
“Batang rumbia yang sudah tinggi disebut batang sagu. Sagu ini bisa diolah menjadi bahan makanan tambahan, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan itik,” kata Adi.
Meski tidak lagi menghasilkan buah, menurut Adi, tanaman rumbia masih memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya melalui pemanfaatan daunnya yang digunakan sebagai bahan atap tradisional.
“Daun rumbia bisa dijahit untuk dijadikan atap rumah. Saat ini satu gagang daun atap rumbia harganya sekitar Rp7.000. Jadi masih menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat walaupun buahnya sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
Dahulu, Aceh Barat dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah rumbia dalam jumlah besar. Buah tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal, tetapi juga dikirim hingga ke Banda Aceh oleh para pedagang buah dari Aceh Barat.
Namun kini, keberadaan buah rumbia semakin langka dan tidak lagi ditemukan dalam jumlah yang memadai. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pelestarian tanaman khas daerah, tetapi juga mengubah cita rasa sejumlah kuliner tradisional yang selama puluhan tahun identik dengan buah rumbia.
Masyarakat berharap adanya penelitian dan perhatian dari pihak terkait untuk mengetahui penyebab tanaman rumbia tidak lagi berbuah, sehingga potensi tanaman khas Aceh Barat tersebut dapat kembali berkembang di masa mendatang. (Mil/*)


