ADA PERTEMUAN yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi meninggalkan kesan yang bertahan bertahun-tahun. Ada pula jabat tangan yang terasa biasa, namun ada juga rangkulan yang menyimpan makna persaudaraan. Itulah yang saya rasakan ketika bertemu Kabid Humas Polda Kalimantan Timur yang baru.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah pertemuan biasa antara seorang wartawan dengan seorang pejabat kepolisian. Namun, bagi saya, ada cerita lain yang mengalir di baliknya. Setelah sekian lama meliput berbagai kegiatan di lingkungan Polda Kalimantan Timur, akhirnya saya bertemu dengan seorang Kabid Humas yang berasal dari Tatar Pasundan. Ia putra Bandung, sementara saya lahir di Garut, kota kecil yang dikenal sebagai Kota Dodol.
Ketika sapaan khas Sunda mengalir begitu saja, suasana yang semula formal berubah menjadi hangat. Rasanya seperti bertemu saudara lama yang baru dipertemukan kembali oleh waktu. Bahasa boleh sederhana, tetapi keakraban yang lahir darinya sulit diukur dengan kata-kata.
Sebagai wartawan yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di media cetak hingga media daring, saya belajar bahwa setiap narasumber adalah guru kehidupan. Pangkat, jabatan, dan kedudukan hanyalah identitas. Yang jauh lebih penting adalah ketulusan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk membuka ruang dialog.
Karena itulah saya selalu berusaha mengenal lebih dekat setiap sosok yang saya temui. Bukan untuk mencari kedekatan demi kepentingan pribadi, melainkan untuk memahami cara mereka memandang tugas, mengelola amanah, dan melayani masyarakat. Dari sana, saya percaya, sebuah berita tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan sisi kemanusiaan.
Saya merasakan hal itu pada sosok Kombes tersebut. Sambutannya hangat, senyumnya tulus, dan rangkulannya terasa akrab. Rangkulan itu mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi bagi saya, ia menjadi simbol bahwa hubungan antara insan pers dan kepolisian sejatinya dibangun di atas rasa saling menghormati dan saling percaya.
Dalam dunia jurnalistik, kedekatan bukan berarti kehilangan sikap kritis. Justru dengan komunikasi yang baik, wartawan akan lebih mudah memperoleh informasi yang utuh, sementara narasumber pun merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sumber kutipan.
Saya percaya, hubungan yang sehat antara media dan institusi adalah salah satu fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik. Wartawan tetap menjalankan fungsi kontrol sosial, sementara aparat tetap menjalankan tugas negara. Di antara keduanya, selalu ada ruang dialog yang harus dirawat dengan kebijaksanaan.
Hari itu saya pulang bukan hanya membawa bahan berita. Saya membawa sebuah pelajaran sederhana bahwa persaudaraan bisa tumbuh dari mana saja. Kadang dari kesamaan tanah kelahiran, kadang dari kesamaan bahasa, dan sering kali dari ketulusan dalam menghargai sesama.
Mungkin itulah makna sebenarnya dari “Rangkulan Intim Seorang Kombes”. Bukan tentang jabatan yang disandangnya, bukan pula tentang kedekatan yang ingin dipamerkan. Melainkan sebuah pengingat bahwa setinggi apa pun pangkat seseorang, kehangatan hati tetap menjadi bahasa yang paling mudah dipahami. Dan bagi seorang wartawan, setiap perjumpaan yang penuh ketulusan selalu menjadi cerita yang layak dikenang. ** Balikpapan, Rabu (15/7/2026)


