Oleh — Y Darojatun
FENOMENA El Niño yang memicu kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang panas dan minim hujan memang menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran.
Namun, karhutla tidak semata-mata persoalan fenomena alam. Faktor manusia juga memiliki peran besar. Kebiasaan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan, hingga kurangnya kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi pemicu kebakaran.
Pepatah “tidak ada asap kalau tidak ada api” menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dimulai dari perilaku manusia. Dalam situasi cuaca kering, tindakan kecil yang tidak disiplin dapat berkembang menjadi bencana besar.
Disiplin dalam menjaga lingkungan bukan sekadar aturan, melainkan tanggung jawab bersama. Pepatah “alah bisa karena biasa” mengajarkan bahwa kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten akan membentuk perilaku positif.
Karena itu, menghadapi ancaman karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan petugas. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran dan kedisiplinan untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Fenomena alam mungkin tidak dapat dikendalikan manusia. Namun, perilaku manusia dapat dikendalikan melalui disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab. Mencegah karhutla pada akhirnya bukan hanya soal memadamkan api, tetapi bagaimana manusia tidak menjadi sumber munculnya api. (Ydar)


