Oleh: Redaksi
ADA YANG TERASA MENGGELITIK ketika membicarakan persoalan kebersihan di Kalimantan Timur. Balikpapan, kota yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia, kini mulai menghadapi pertanyaan sederhana tetapi penting: mengapa dalam urusan pengelolaan sampah dan kebersihan, Balikpapan justru mulai terlihat kalah dibandingkan Bontang?
Pertanyaan ini tentu bukan untuk mempermalukan Balikpapan. Apalagi membandingkan dua kota dengan tujuan mencari siapa yang lebih hebat.
Justru sebaliknya. Ini adalah momentum untuk berkaca.
Balikpapan sudah terlalu lama dikenal sebagai kota yang bersih, indah dan nyaman. Berbagai penghargaan kebersihan yang pernah diraih menjadi bukti bahwa kota ini memiliki tradisi panjang dalam menjaga lingkungan.
Namun, penghargaan semestinya bukan alasan untuk berhenti berbenah.
Jangan sampai muncul anggapan bahwa Balikpapan sudah terlalu sering menang sehingga kini waktunya memberi kesempatan kepada kota lain.
Bukan soal kalah-menang. Bukan pula soal memberi kesempatan kepada Bontang. Tetapi soal apakah kondisi kebersihan Balikpapan hari ini masih layak menyandang citra sebagai kota yang bersih dan nyaman.
Jawabannya tentu harus dilihat dari lapangan
Coba kita tengok sejumlah tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Di beberapa lokasi, pemandangannya cukup memprihatinkan. Sampah menumpuk melebihi kapasitas, sebagian tercecer hingga ke badan jalan, menimbulkan bau dan tentu saja mengganggu kenyamanan warga.
TPS yang seharusnya menjadi tempat penampungan sementara justru berubah menjadi titik persoalan baru.
Ketika sampah sudah meluber ke luar TPS, persoalannya bukan lagi sekadar soal estetika. Ada persoalan kesehatan, lingkungan, kenyamanan dan kedisiplinan sosial yang ikut dipertaruhkan.
“Kota yang bersih bukan kota yang paling banyak mendapatkan penghargaan, tetapi kota yang warganya tetap peduli terhadap kebersihan meski tidak sedang dinilai.”
Kalimat itu rasanya penting untuk direnungkan
Sebab persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memang memiliki kewajiban menyediakan sarana, mengatur jadwal pengangkutan, memastikan TPS memadai dan memberikan edukasi serta penegakan aturan.
Tetapi masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama
Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan membuang sampah di luar jam yang telah ditentukan. Jangan pula menganggap persoalan sampah selesai setelah sampah keluar dari rumah.
Karena sampah yang kita buang dari rumah tidak pernah benar-benar “hilang”.
Ia hanya berpindah tempat
Dari halaman rumah ke TPS. Dari TPS ke tempat pembuangan akhir. Dan jika pengelolaannya buruk, dampaknya kembali kepada masyarakat dalam bentuk bau, penyakit, pencemaran dan lingkungan yang tidak nyaman.
Bontang Memberikan Cermin
Ketika Bontang mulai menunjukkan pengelolaan kebersihan yang semakin baik dan mendapat perhatian dalam berbagai penilaian, Balikpapan seharusnya tidak merasa tersaingi.
Justru harus berterima kasih
Sebab Bontang memberikan cermin
Cermin itu memperlihatkan bahwa mempertahankan predikat kota bersih tidak cukup dengan mengandalkan reputasi masa lalu.
Kota berkembang. Jumlah penduduk bertambah. Aktivitas ekonomi meningkat. Produksi sampah ikut meningkat. Pola konsumsi masyarakat berubah.
Artinya, sistem pengelolaan sampah juga harus terus berubah dan beradaptasi.
“Prestasi masa lalu adalah kebanggaan, tetapi kebersihan hari ini adalah tanggung jawab.”
Balikpapan tidak boleh hidup dari cerita bahwa dulu pernah menjadi kota bersih.
Kota ini harus membuktikan bahwa hari ini pun masih mampu menjaga kebersihannya.
Bahkan kalau perlu, standar kebersihan yang digunakan harus lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Jangan Hanya Menunggu Petugas
Ada satu hal yang juga perlu dikritisi: kesadaran sebagian masyarakat tampaknya mulai mengalami penurunan.
Hal ini dapat terlihat dari kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya, menumpuk sampah di sekitar TPS, hingga membuang sampah setelah petugas selesai melakukan pengangkutan.
Petugas kebersihan bekerja setiap hari
Namun, seberapa pun banyak petugas yang dikerahkan, mereka tidak akan pernah mampu mengatasi persoalan sampah apabila produksi sampah dan perilaku membuang sampah tidak terkendali.
Bayangkan jika satu rumah menghasilkan satu kantong sampah tambahan setiap hari.
Kalikan dengan ribuan rumah
Kemudian kalikan lagi selama satu bulan
Jumlahnya bukan lagi sekadar tumpukan kecil
Di sinilah kesadaran masyarakat menjadi kunci
Kebersihan bukan pekerjaan satu dinas. Bukan hanya tugas petugas kebersihan. Bukan pula tanggung jawab pemerintah kota semata.
Kebersihan adalah kerja bersama
TPS Jangan Dibiarkan Menjadi Titik Kumuh
Di sisi lain, pemerintah juga perlu melakukan evaluasi serius terhadap kondisi TPS.
Jika sebuah TPS berulang kali mengalami overload, maka persoalannya harus dicari sampai ke akar.
Apakah kapasitas TPS sudah tidak memadai?
Apakah jadwal pengangkutan perlu ditambah?
Apakah jumlah armada mencukupi?
Apakah lokasi TPS memang sesuai?
Atau justru pola pembuangan masyarakat yang perlu diperbaiki?
Semua pertanyaan tersebut harus dijawab berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Jangan sampai pemerintah hanya mengetahui persoalan berdasarkan laporan administratif, sementara warga setiap hari melihat sendiri sampah berserakan di depan mata.
“Data kebersihan boleh tertulis rapi di atas kertas, tetapi ukuran sebenarnya adalah apa yang dilihat warga ketika keluar dari rumah.”
Karena itu, inspeksi lapangan perlu diperkuat. Titik-titik TPS yang sering overload harus dipetakan. Solusinya jangan seragam karena setiap kawasan memiliki karakter dan persoalan yang berbeda.
Mengembalikan Budaya Bersih
Yang paling penting bukan sekadar mengejar penghargaan
Yang harus dikembalikan adalah budaya bersih
Budaya yang dahulu membuat Balikpapan dikenal sebagai kota yang bersih harus ditanamkan kembali, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, perkantoran, pasar, kawasan permukiman hingga ruang publik.
Anak-anak perlu dibiasakan membuang sampah pada tempatnya
Orang dewasa harus memberikan contoh
Pengelola kawasan harus bertanggung jawab
Pemerintah harus hadir dengan sistem yang baik
Dan masyarakat harus ikut mengawasi
Jika semua berjalan bersama, persoalan sampah tidak akan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Sebaliknya, jika masing-masing saling menyalahkan, maka TPS akan terus menjadi saksi dari persoalan yang sama.
Balikpapan Harus Berkaca, Bukan Berkecil Hati
Kalau tahun ini Bontang dianggap lebih baik dalam urusan kebersihan, Balikpapan tidak perlu malu.
Jadikan itu cambuk
Jadikan sebagai pengingat bahwa sebuah kota tidak boleh terlena dengan penghargaan.
Karena penghargaan adalah hasil dari kerja
Dan hasil itu harus dipertahankan setiap hari
Balikpapan adalah kota yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga kebersihan. Jangan sampai sejarah itu hanya menjadi kenangan.
Sudah waktunya semua pihak kembali bergerak
Pemerintah membenahi sistem.l
Petugas meningkatkan pelayanan
Masyarakat meningkatkan kesadaran
Dan pengawasan diperkuat
Sebab pada akhirnya, slogan bersih, indah dan nyaman bukan sekadar rangkaian kata yang terpampang di berbagai tempat.
Ia harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Terlihat di jalan
Terlihat di lingkungan permukiman
Terlihat di pasar
Terlihat di TPS
Dan yang paling penting, terlihat dalam perilaku kita sendiri.
Jika Balikpapan ingin kembali menjadi contoh, maka tidak perlu menunggu penghargaan berikutnya.
Mulailah dari sampah yang ada di depan mata.
Karena kota yang hebat bukan kota yang selalu menang dalam perlombaan kebersihan, melainkan kota yang masyarakatnya merasa malu ketika melihat sampah berserakan dan merasa bertanggung jawab untuk segera membersihkannya.
Balikpapan tidak sedang kalah. Balikpapan sedang diingatkan untuk kembali peduli. (tim)


