BARABAI, Cerdasnews.id — Kabut asap tebal kini menyelimuti wajah Kota Barabai dan sekitar. Kabut asap yang membuat sinar mentari tak tembus pandang ke bumi di siang hari ini diduga bersumber dari bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah HST dan daerah kabupaten lainnya di Benua Anam Kalsel.
Terkait kabut asap yang menebal dan memburuknya kualitas udara ini, Dinkes (Dinas Kesehatan) Hulu Sungai Tengah (HST) mengeluarkan lima jurus imbauan ke masyarakat. Imbauan ini sebagai upaya antisipasi gangguan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara dan kabut asap di Bumi Murakata — HST, Kamis (17/9/2026).
“Dinkes HST mengingatkan warga untuk menerapkan lima langkah penting. Mulai dari penggunaan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas ke luar rumah terutama saat kualitas udara tidak sehat (buruk),” ucap Kepala Dinkes HST, dr Desfi Delfiana Fahmi.

Dokter Desfi menyebut, upaya pencegahan lainnya mencakup mengurangi asap masuk ke dalam rumah dengan menutup pintu serta jendela, serta memanfaatkan penyaring udara jika tersedia. “Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan medis hingga mengalami sesak napas yang memperburuk kondisi kesehatan,” imbau dr Desfi.
Menurut dia, langkah perlindungan ekstra juga ditegaskan wajib diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.
“Apabila mengalami keluhan berupa sesak napas berat, sulit bernapas, keluhan semakin memburuk, atau kondisi terasa mengkhawatirkan, warga diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat,” tutup dr Desfi.
Berdasarkan data surveilans kesehatan, pada Minggu ke-37 (7–13 September 2026) tercatat 630 kasus ISPA. Sementara Minggu ke-38 (tanggal 14 sampai hari ini) tercatat sebanyak 327 kasus ISPA di wilayah Kabupaten HST.

Pantauan media ini, kondisi udara dan langit di Kota Barabai hari ini sangat tidak bersahabat. Matahari tak terlihat bersinar cerah menembus bumi, kecuali terhalang tebalnya kabut asap. Jarak pandang pun hanya berkisar 50 meter.
“Sekarang kabutnya semakin parah. Bernafas juga terasa sakit. Padahal, ini kan sudah jam 12 siang tapi masih seperti jam 07.00 pagi,” ujar salah satu warga Barabai, Ulvah.
Tak hanya itu. Dampak kabut asap yang diduga bersumber dari Karhutla ini kian menjadi-jadi menjelang sore hari. Terpantau media ini sekitar pukul 1600 WITA, kabut asap makin menebal seperti menjelang senja dan jarak pandang berkisar antara 30-35 meter saja.
Di bagian lain, cuaca tidak sehat sebagai akibat kabut asap ini pula mulai memicu lonjakan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Rumah Sakit H Damanhuri (RSHD) Barabai dalam dua pekan terakhir.
“Berdasarkan data IGD, Klinik Anak, dan Klinik Paru RSHD Barabai per 17 September 2026, tercatat peningkatan pasien ISPA rawat inap anak sekitar 40 persen dan dewasa sekitar 60 persen,” ungkap Kabid Pelayanan Medik dan Penunjang Medik RSHD Barabai, dr Era Ery Dhani.
Lantas dr Era menjelaskan, kasus rawat jalan anak juga mengalami kenaikan hampir 40 persen. Sedangkan rawat jalan dewasa naik sekitar 10 persen dibanding periode sebelumnya.
“Keluhan terbanyak meliputi batuk, pilek, sesak napas, iritasi mata, sakit tenggorokan, hingga kekambuhan asma dengan kelompok paling rentan yaitu anak-anak, lansia, dan penderita asma atau PPOK,” ujar dr Era Ery Dhani menjawab konfirmasi awak media.
Guna mengantisipasi lonjakan ini, manajemen RSHD Barabai telah meningkatkan kesiagaan sarana kesehatan dan fasilitas medis. “Kami sudah menyiapkan kesiagaan dengan menambah stok oksigen, masker, obat-obatan saluran napas, serta menyiagakan tim IGD selama 24 jam,” kata dr Era.
Untuk meminimalisir dampak asap yang terjadi, masyarakat juga diimbau untuk memakai masker standar N95 atau KF94 saat keluar rumah. Memperbanyak minum air putih, serta tidak membakar sampah maupun lahan.
“Jangan menunda untuk ke rumah sakit apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk tak kunjung berhenti, atau demam tinggi,” pungkas dr Era menutup pembicaraan. (JJD)


