Seputarkotaku.com, Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) semakin giat memperkenalkan dan mempopulerkan olahraga tradisional sebagai bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat di kalangan masyarakat.
Dalam upaya ini, Dispora Kaltim mengoptimalkan berbagai program yang melibatkan masyarakat secara langsung, bekerja sama dengan berbagai organisasi dan pihak terkait.
Menurut Thomas Alva Edison, Kepala Seksi Olahraga dan Rekreasi Tradisional Dispora Kaltim, Senin (18/11/2024) menuturkan kegiatan sosialiasi dan pemasaran olahraga tradisional yang dilaksanakan pihaknya bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya olahraga, sembari menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak hanya berolahraga untuk kesehatan, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan olahraga tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Timur dan Indonesia,” kata Thomas dalam wawancara eksklusif.
Setiap tahunnya, Dispora Kaltim menyusun lebih dari 16 kegiatan yang terbagi dalam empat triwulan.
Program-program tersebut mencakup pemasaran olahraga, edukasi tentang pentingnya berolahraga, serta kegiatan olahraga bersama masyarakat yang sering diadakan pada hari Minggu.
Salah satu kegiatan unggulan yang mendapat perhatian luas adalah “Olahraga Bersama”, yang diadakan di ruang publik, seperti lapangan terbuka dan halaman sekolah.
Program ini, menurut Thomas, bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar berolahraga bersama-sama dan mengintegrasikan olahraga dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga difasilitasi oleh berbagai organisasi olahraga, termasuk KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia), yang turut berperan aktif dalam mengelola olahraga bersama.
“Melalui olahraga bersama di ruang publik, kami ingin menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya olahraga. Ini juga menjadi ajang silaturahmi yang membangun kebersamaan dalam masyarakat,” tambah Thomas.
Selain olahraga bersama di Samarinda, Dispora Kaltim juga memfasilitasi kegiatan lain seperti senam di Palaran pada sore hari.
Program ini diadakan untuk menjangkau masyarakat yang mungkin tidak dapat berolahraga di pagi hari.
“Senam sore di Palaran adalah alternatif bagi mereka yang sibuk di pagi hari. Kami ingin memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi dalam program olahraga yang kami tawarkan,” ujar Thomas.
Untuk menjamin kualitas kegiatan ini, Dispora Kaltim melibatkan 16 instruktur terlatih dalam mengelola berbagai jenis olahraga tradisional dan senam.
Para instruktur ini dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengisi kegiatan setiap bulannya.
Keberadaan instruktur yang terlatih ini menjadi kunci penting dalam menjalankan program olahraga, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran fisik, tetapi juga untuk mengenalkan olahraga tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Dispora Kaltim adalah memperkenalkan olahraga tradisional yang sering kali memiliki nama berbeda-beda di tiap daerah.
Thomas menegaskan bahwa olahraga tradisional yang ada di Kaltim bukan hanya sekadar warisan budaya lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk dipromosikan secara nasional.
“Olahraga tradisional seperti propapanjang dan berbagai jenis permainan lokal lainnya memiliki kekayaan yang luar biasa. Meskipun nama-nama tersebut berbeda di setiap daerah, tujuan kami adalah untuk menggali dan mempopulerkannya, agar olahraga ini tidak hanya menjadi aset daerah, tetapi juga aset bangsa,” ujarnya.
Melalui kegiatan yang terstruktur dengan baik dan pendekatan yang kreatif, Dispora Kaltim berharap dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga tradisional dan memperkenalkan potensi besar yang dimilikinya.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan budaya sehat, tetapi juga untuk menjaga keberagaman tradisi yang menjadi bagian integral dari identitas masyarakat Kaltim.
Dengan berbagai inisiatif yang telah digulirkan, Dispora Kaltim berharap dapat membangun sebuah budaya olahraga yang inklusif dan berkelanjutan, di mana masyarakat, dari yang muda hingga yang tua, dapat merasa terlibat.
Selain itu, olahraga tradisional yang dilestarikan juga diharapkan dapat menjadi identitas budaya yang lebih dikenal, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional.
“Olahraga tradisional adalah bagian dari sejarah kita. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, kami berharap olahraga ini bisa terus berkembang dan menjadi lebih dari sekadar kegiatan fisik. Ini adalah cara kami untuk menjaga warisan budaya sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih sehat dan aktif,” tutup Thomas.
Melalui langkah-langkah ini, Dispora Kaltim bertekad untuk tidak hanya menciptakan masyarakat yang sehat, tetapi juga melestarikan dan mempromosikan olahraga tradisional sebagai bagian dari kebanggaan budaya bangsa.(*/adv)


