Catatan Ringan — Y Darojatun
BETAPA ASRI dan indahnya sebuah kota yang sudah tertata apik, yang sebelumnya boleh dikatakan banyak menimbulkan masalah, agak kumuh dan kurang menawan.
Pembangunan yang sedang berlangsung pada pemerintahan kepemimpinan Rahmad Mas’ud, sungguh luar biasa. Sehingga penataan kota seakan berubah dalam sekejap menjadi lebih kinclong dan menarik.
Contoh paling nyata, lihat kondisi sepanjang Jalan MT. Haryono mulai dari jembatan Damai hingga sebagian depan Gedung Telkom Balikpapan sejak tahun lalu hingga saat ini dikembangkan dan terus dibangun, permukaan sungai ditutup membentuk pedestrian yang tergolong “wah”.
Pantas saja sebagian warga Kota Balikpapan menyebutnya sebagai kawasan ‘Malioboro’ nya Balikpapan. Dengan penataan lampu jalan yang artistik jalan semakin tampak lebih lebar. Sungguh indah saat malam tiba, lampu lampu menyala seolah mengajak tersenyum warga kota yang singgah dan jalan jalan di area itu untuk melepas kepenatan sehari penuh.

Diketahui penataan sepanjang jalan tersebut merupakan proyek pengendalian banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal Balikpapan yang telah menghabiskan anggaran sekitar Rp 136 miliar. Proyek ini mencakup pengerjaan 6 titik lokasi banjir dan perbaikan saluran drainase.
Selain itu, karena pembangunan masih berlangsung dan telah mencapai kurang lebih 90 persen. Masih ada lagi proyek tambahannya diperkirakan biaya tambahan mencapai 80 miliar.
Bagaimanapun proses yang sedang dibangun yang terpenting hasilnya tepat sasaran segala aspek terjawab dengan nyata. Minimal solusi mengatasi banjir mampu terselesaikan. Tetapi rupanya, tidak ada gading yang tak retak persis sesuai pepatah faktor alam sangat berpengaruh besar dan kuat, sulit untuk dilawan.
Ada saat hujan ada saatnya kemarau, untuk Kota Balikpapan sepertinya tidak ada yang namanya musim. Jika sudah panas terik ya panas dan sebaliknya. Jika hujan deras di Kota ini, dipastikan ada beberapa titik area yang masih terjadi banjir.
Untuk area Jalan MT Haryono, setidaknya banjir sudah diminimalisir. Namun demikian ada saja kekurangan yang muncul ke permukaan, setelah hujan usai seharusnya kondisi jalan tetap bersih walaupun basah.
Tapi yang tampak ada hamparan lumpur halus berdebu, diperkirakan lumpur tersebut muncul dari aliran air melalui lubang dan menyebar ke jalan. Kemungkinan saat aliran air deras meluap hingga permukaan atas lantaran mulai terjadi endapan.
Memang tidak semua sepanjang Jalan MT Haryono yang terkena luapan lumpur debu itu, tetapi sebagian saja tepatnya di Simpang Lampu Merah Jalan Beller, sebelah kiri arah kota. Lumpur keluar melalui lubang lubang buangan.
Seperti biasanya, jika ada area jalanan yang kotor dengan sigap dibersihkan oleh pihak terkait dengan menyemprotnya dengan air hingga bersih. Tetapi entah mengapa? Untuk kondisi di Jalan MT Haryono seindah itu belum ada respon cepat.
Sangat disayangkan penataan kota yang bagus tidak sejalan dengan perawatan yang konsisten. Dikhawatirkan dari kebiasaan tersebut menimbulkan penilaian lain dari warga kota maupun warga luar kota.
Dengan dibangunnya pedestrian Jalan MT Haryono, diharapkan Kota Balikpapan semakin diperhitungkan dalam mewujudkan kota yang bersih indah aman dan nyaman sesuai jargon Kota Balikpapan sebagai kota BERIMAN (Bersih Indah Aman dan Nyaman) serta membuat warga semakin mencintai kotanya.***


