Catatan Ringan — Sunarto Sastrowardojo
KETIKA membaca beberapa jurnal tentang minyak dan Kota Balikpapan, saya benar benar terkejut. Kota Balikpapan berpeluang besar menjadi Kota Petrokimia Kalimantan Timur dan mungkin yang terbesar di Indonesia, di atas Cilegon sebagai Pusat Industri Petrokimia terintegrasi.
Saya bukan asli Balikpapan. Nama depan dan belakang saya jelas menunjukkan itu. Tepatnya 14 Juni 1964 kami sekeluarga meningalkan Kabupaten Pecitan yang menurut ayah saya ke Kalimantan untuk mengubah nasib.
Waktu itu di Jalan minyak ada satu ruas yang membelah bukit. Tidak terlalu tinggi memang. Perkiraan saya bukit itu sampai badan jalan tingginya kurang lebih 30 an meter dan panjangnya lebih dari satu kilometer di kiri kanan jalan itu adalah hutan yang sangat dilestarikan, tak heran jika kawasan itu adalah kawasan dingin, siang maupun malam hari.
Tikungan menanjak itu tidak jauh dari pelabuhan Balikpapan, sekarang. Jalan sekira satu kilometer itu benar benar membekas di ingatan saya. Kendati berkali kali keluar masuk Balikpapan dan akhirnya menetap di Kota Minyak ini.
Ketika jauh dari Balikpapan yang terbayang adalah kesejukan jalan itu terutama saat pagi hari. Atau malam. Ketika melintasi jalan minyak terasa nyes. Sangat berbeda dengan kawasan lainnya, walau sama sama di Jalan minyak.
Hutannya lebat di kiri kanan jalan. Hanya saja saya tidak paham apakah itu hutan asli atau buatan, saya tidak dapat menjelaskan. Semasa kecil, usia SD saya dan teman teman sering memasuki hutan di bukit itu hanya untuk sekadar mencari cempedak liar atau durian. bahkan rambutan dan rambai yang banyak tumbuh.
Tiba tiba saja saya mengelus dada, mungkin akan sedih jika kehilangan karakteristik Kota Balikpapan. Saya jadi terbayang juga Kota Cilegon, Banten yang dikenal sebagai pusat industri petrokimia terbesar di Indonesia. PT Chandra Asri Petrochemical.
Perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, di Provinsi Banten. Balikpapan memang berpotensi besar berubah menjadi kota petrokimia. Apalagi memang komponen utamanya minyak dan gas sudah jadi ciri Kota Balikpapan sebagai Kota Minyak dan Bontang sebagai penghasil gas terbesar. Bahkan kabarnya pabrik pupuk yang dikelola PT Badak ini produksinya belasan juta ton pertahun, termasuk ekspor.
Balikpapan sudah memiliki sejarah panjang dalam industri minyak dan gas, dan saat ini sedang dalam proses pengembangan kilang menjadi yang terbesar di Indonesia. Proyek RDMP Kilang Balikpapan akan meningkatkan kapasitas kilang dan menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi, termasuk petrokimia seperti Propylane, yang merupakan bahan baku plastik.
Balikpapan juga akan berubah menjadi Pusat Petrokimia Kalimantan Timur dan pusat petrokimia serta simpul logistik Kalimantan Timur dengan fasilitas bandara dan pelabuhan laut yang sangat mendukung. Yang membuat saya panik adalah Balikpapan secara historis merupakan lahan pertamina, kecuali secuil tanah di belakang Kantor Pos besar Balikpapan.
Balikpapan adalah pintu gerbang utama Kalimantan Timur dan memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung industri petrokimia. Belum lagi ditambah fakta bahwa pertumbuhan ekonomi dunia, Indonesia, Kalimantan Timur dan Balikpapan juga sangat membutuhkan tambahan industri petrokimia. Hampir pasti Balikpapan akan berubah, persis filem anak anak Ultramen, Jooos.
Selain kilang minyak, Kota Balikpapan sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia berpeluang mengubah karakteristik kotanya dengan industri petrokimia, dengan instalasi kota dan wajah industrinya, saya makin merinding. Apalagi Balikpapan juga diarahkan untuk pengembangan industri farmasi dan energi terbarukan. Ini menunjukkan potensi diversifikasi ekonomi. Di sisi ini mungkin positif. Pengalaman Balikpapan dalam industri minyak dan gas akan menjadi modal berharga dalam pengembangan industri petrokimia. Dengan potensi ini, Balikpapan memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi kota petrokimia yang maju dan berkontribusi signifikan pada perekonomian Kalimantan Timur dan nasional. Ini satu sisi. Sisi lain saya mungkin satu dari entah berapa orang yang paling dan ngeri sebagai Kota Petrokimia Balikpapan.
Setahu saya polusi yang disebabkan oleh aktivitas pengolahan dan pemurnian petrokimia berdampak buruk pada lingkungan mulai dari polusi pada tanah hingga udara. Pembuangan limbah petrokimia dapat mengakibatkan kontaminasi tanah dengan Cd, Cr, Cu, Ni, Pb, V dan Zn di antara kontaminan lain yang berpotensi beracun, polusi udara yang disebabkan oleh uap bensin dan uap petrokimia lainnya,
Polusi yang terjadi pada air yang berpotensi merusak ekosistem air dan seisinya dampak lain yang lebih serius juga terjadi pada manusia yaitu polusi petrokimia bersifat karsinogen penyebab kanker, tapi polusi petrokimia dapat di kurangi dengan cara pemanfaatan teknologi pengolahan limbah yang efektif sebelum dikeluarkan ke lingkungan.
Bahwa sejumlah besar bahan kimia yang terlibat dalam pemurnian minyak bumi dan manufaktur petrokimia beracun dalam berbagai kondisi,seperti menyebabkan kanker karena bersifat karsinogenik, yang disebabkan oleh produk petrokimia seperti bensin (Mehlman, 2006).
Selain itu, limbah petrokimia mengandung juga kontaminan anorganik yang dapat mencemari tanah dan menimbulkan risiko ekologis dan manusia. Oleh karena itu, pembuangan limbah petrokimia dapat mengakibatkan kontaminasi tanah dengan Cd, Cr, Cu, Ni, Pb, V dan Zn di antara kontaminan lain yang berpotensi beracun (Schroder et al., 2000).
Meskipun tingkat lingkungan logam saat ini jarang menyebabkan kematian dalam berbagai populasi namun paparan terus-terusan terhadap tingkat rendah elemen beracun seperti As, Cd, Hg, atau Pb telah dikaitkan dengan berbagai efek samping pada manusia (Christensen, 1995; Chang, 1996).
Resiko dari paparan uap hidrokarbon seperti bensin yang menyebabkan resiko kanker dan penyakit berbahaya lain bagi manusia (Mehlman, 1989). Bensin mengandung sejumlah besar bahan kimia, beberapa di antaranya karsinogen.
Karsinognik adalah oraganisme atau agen yang sanggup menyebabkan kanker. Menurut Cornel University. Agen aneh kimia aneh dan tidak bisa pahami ini dapat berinteraksi dengan DNA sel dan memicu pertumbuhan sel yang normal atau tidak dan pada akhirnya
Polusi petrokimia beracun adalah polutan yang sangat berbahaya untuk saat ini. Ancaman sangat berbahaya terjadi pada lingkungan yang berasal dari molekul petrokimia dan terakumulasi di lingkungan karena molekul tersebut tidak dapat terurai secara alami (Qing et al.,2015).
Kelemahan utama kota petrokimia mencakup dampak lingkungan negatif, risiko kesehatan bagi pekerja dan masyarakat sekitar, serta potensi persaingan pasar yang ketat. Industri petrokimia menghasilkan limbah berbahaya yang dapat mencemari lingkungan.
Setidaknya ada beberapa hal kelemahan kota petrokimia yang lebih rinci di antaranya dampak lingkungan, termasuk polusi rumah kaca. Proses produksi petrokimia juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Kebocoran atau ledakan dalam fasilitas petrokimia dapat menyebabkan tumpahan bahan kimia yang merusak lingkungan.
Dampak Kesehatan. Pekerja dan masyarakat sekitar pabrik petrokimia berpotensi terpapar bahan kimia berbahaya, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker dan gangguan pernapasan. Polusi udara akibat emisi industri petrokimia dapat memperburuk masalah pernapasan dan kesehatan lainnya.
Bahkan Industri petrokimia seringkali dikaitkan dengan dampak lingkungan dan kesehatan negatif, yang dapat merusak citra kota. Adanya potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan resistensi masyarakat terhadap pengembangan industri petrokimia di wilayah mereka.
Nah warga Balikpapan boleh menentukan sikap tentang masa depan kotanya. Apakah akan berubah menjadi Kota Industri berat dan berjasa kepada dunia dengan bagi bagi gas atau tetap jadi Beriman, Bersih Indah, Aman dan Nayaman.***


