Bagian II Dari Separuh Hari Menyusuri Semburan Gas di Sanga Sanga
SANGA SANGA — Sejumlah warga yang pekan lalu berkumpul di satu tempat di Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur menyebut perilaku Pertamina sangat tidak manusiawi. Mereka cuma memberi air minum botolan plastik ke warga perdos per keluarga,” kata Ridwan Said, salah seorang warga yang menolak disebut namanya itu.
Padahal, kata Achmadiansyah yang tercemar adalah air tanah harian yang tidak dapat difungsikan sebagai kebutuhan air MCK. ”Di Sanga Sanga, warga tidak pernah minum air dari PDAM. Air PDAM cuma untuk MCK. Sejak dulu, warga minum air galon yang lebih baik kualitasnya, dan juga banyak yang memiliki sumur bor dengan kedalaman tertentu yang airnya layak minum,” kata pria yang karib disapa Madin.
Menurut dia, sebagian besar warga Sanga Sanga membeli air minum kemasan atau isi ulang dan, apalagi dalam kondisi darurat cemaran sejak Jumat dua pekan lalu, kata Ridwan, masyarakat masih mampu membeli air minum. “Sekali lagi yang kami perlukan adalah air bersih untuk MCK dari PDAM, tapi agaknya tercemar sejak kejadian semburan tersebut,” katanya.
Seperti diketahui semburan minyak dan gas dari sumur Pertamina di Kecamatan Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ternyata menyimpan resiko lingkungan tersembunyi, di antaranya dampak biologis yang merugikan. “Dampak ini bisa secara langsung maupun tidak langsung, terhadap lingkungan dan makhluk hidup,“ kata Suganda, seorang warga RT 04 Kelurahan Jawa, Kecamatan Sanga Sanga.

Kata mantan pekerja Lapangan Sanga Sanga ini dampaknya bisa meliputi pencemaran air, tanah, dan udara, serta potensi gangguan pada rantai makanan dan kesehatan manusia. “Tumpahan minyak dan gas bisa mencemari sumber air bersih, baik air permukaan maupun air tanah. Pencemaran ini dapat membahayakan organisme air, tambah mantan pekerja Lapangan Minyak Sanga Sanga ini, kepada kepada media yang tergabung di Ikatan Jurnalis Online Kalimantan (IJOK), Senin, 23 Juni 2025 di Sanga Sanga
Cemaran air tanah, misalnya. Minyak dan gas yang bocor dapat meresap ke dalam tanah, mencemari tanah dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Tanah yang tercemar juga dapat menjadi sumber kontaminasi bagi hewan yang mencari makan di area tersebut.
Sedangkan cemaran udara dari semburan gas dan pembakaran minyak dapat melepaskan berbagai senyawa kimia berbahaya ke udara, seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan partikel debu. “Paparan senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kesehatan lainnya pada manusia dan hewan,“ tambah Madin.
Bahan kimia berbahaya dari tumpahan minyak dan gas dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, kemudian terbawa ke organisme lain melalui rantai makanan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada hewan yang mengonsumsi organisme yang terkontaminasi, bahkan hingga manusia.
Dampak negative cemaran yang harus mendapat perhatian serius adalah dampak bagi manusia. Paparan bahan kimia berbahaya dari semburan minyak dan gas dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada manusia, seperti gangguan pernapasan katanya tegas.
Madin dan warga Sanga Sanga juga bukan menolak atau tidak menerima bantuan air minum kemasan yang jumlahnya tidak seberapa itu. ”Sampaikan dengan cara yang baik. Jangan terkesan air itu sebagai pertanggungjawaban Pertamina. Kecil sekali mereka menghargai kesehatan kami,” katanya jika hanya dengan air mineral botol kecil ataupun yang berupa galon.
Warga Sanga Sanga menginginkan agar cemaran minyak itu ditangani serius dengan teknologi yang dimiliki Pertamina dan diperiksa oleh instansi yang berwenang. ”Kami akan menerima kembali Sanga Sanga dalam keadaan baik baik setelah dibersihkan dari limbah itu,” tambahnya.
Secara ekosistem semburan minyak dan gas dapat merusak ekosistem secara keseluruhan, termasuk habitat alami tumbuhan dan hewan, serta mengganggu keseimbangan ekologis. Hal ini dapat menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati dan hilangnya spesies tertentu.
Dampak jangka panjang atas semburan liar ini dapat berlangsung lama. “Bersifat jangka panjang lah. Bahkan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau puluhan tahun, seperti akumulasi bahan kimia berbahaya dalam tanah dan air, serta kerusakan jangka panjang pada ekosistem,” kata Madin lagi dengan raut menahan emosi. *** (bagian 2 dari beberapa tulisan/Tim/Sunarto Sastrowardojo, Edy Yudohandana, Y Darojatun, Herry T)


