Bagian 4 Penyusuran Benang Merah Semburan Lumpur dan Gas di Kota Juang Sangat Sanga
SANGA SANGA — Dampak negative dari cemaran sumur migas di Sanga Sanga, secara resmi belum diungkap oleh Pertamina. Namun sejumlah pihak, termasuk DPRD Kaltim sudah melontarkan peringatan agar Pertamina menerapkan standar pengelolaan limbah yang baik dan benar.
Di antaranya adalah anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) M Samsun, angkat bicara atas kejadian ini. Legislator dari Dapil Kukar itu menyesalkan peristiwa pencemaran lingkungan yang kembali terjadi.
“Ini bukan pertama kali terjadi. Dulu sempat juga terjadi di Muara Badak, bahkan nelayan kerang pernah mengadu soal pencemaran. Ini harus menjadi catatan serius, karena kejadian seperti ini terjadi di beberapa titik,” ujarnya, Senin pekan lalu.
Samsun menegaskan, agar Pertamina segera melakukan analisis kandungan air sungai serta mengambil langkah pemulihan cepat. Menurutnya, hak masyarakat atas air bersih tidak boleh dikorbankan. “Kalau terjadi pencemaran, pasti dari Pertamina. Karena hanya Pertamina yang punya izin menambang minyak di situ. Maka, mereka harus ambil tindakan cepat,” tegasnya.
Tak hanya mendesak Pertamina, Samsun juga meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan lembaga terkait lainnya segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan sumber kebocoran dan menyiapkan langkah perbaikan.
“DLH dan semua badan lingkungan wajib bergerak. Jangan karena Pertamina itu BUMN, lalu tidak bisa dipanggil. Bisa, dan harus bertanggung jawab atas pencemaran ini,” pungkasnya.
Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field melalui Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia, Dony Indrawan, memastikan bahwa tim teknis mereka telah berhasil menghentikan semburan lumpur dan gas pada hari Sabtu, dua hari setelah kejadian. “Tim teknis yang diterjunkan akhirnya berhasil menghentikan kejadian tersebut. Kami juga memastikan tidak ada korban cedera maupun fatalitas dalam kejadian ini,” jelas Dony dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Menurut dia, perusahaan langsung menjalankan prosedur mitigasi dan penanganan dengan mengutamakan keselamatan pekerja, masyarakat, fasilitas, dan lingkungan. Hingga kini, tidak terdeteksi adanya gas beracun yang membahayakan.
“Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Pertamina juga membuka posko pelayanan kesehatan, mendistribusikan ratusan dus dan galon air mineral, menyediakan air bersih, serta perlengkapan penunjang kesehatan bagi masyarakat terdampak. Permukiman terdekat dari lokasi sumur berada hampir satu kilometer dari titik semburan. Perusahaan akan melakukan evaluasi atas kejadian ini untuk dijadikan pembelajaran dan mitigasi risiko di masa mendatang,” pungkas Dony.
Kota Juang Sangat Sanga siang itu, dinaungi matahari tak begitu terik. Namun paparan matahari di kulit terasa cukup menyengat, terasa berbeda dengan cuaca di kota lain di Kalimantan Timur. Entah itu apakah lantaran dampak dari semburan lumpur dan gas yang terjadi pada Kamis dini hari, 19 Juni 2025.*** (Tim)


