BALIKPAPAN — Wartawan senior Kalimantan Timur yang juga berprofesi sebagai advokat, Andy Ar Evrai J, mendapat kesempatan menjadi presenter dalam International Conference on Postgraduate Research (ICPR) 2026 yang dirangkai dalam kegiatan University Visit 2026 – Academic Visit & International Seminar Thailand.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin hingga Rabu, 31 Agustus–2 September 2026, di Hat Yai, Thailand. Konferensi internasional ini diikuti mahasiswa pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Asia Tenggara sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Andy Are, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa Program Magister Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) IBLAM, Jakarta. Dalam konferensi tersebut, ia akan mempresentasikan hasil penelitian mengenai kepastian hukum dalam kegiatan bongkar muat batu bara di wilayah perairan Kalimantan Timur.
Materi yang akan dipaparkan berjudul “Legal Certainty in the Regulation and Implementation of Coal Loading and Unloading Activities in the Mining Sector in East Kalimantan Province”, atau “Kepastian Hukum Penyelenggaraan Bongkar Muat dalam Kegiatan Usaha Pertambangan Batu Bara di Provinsi Kalimantan Timur.”
“Penelitian ini saya lakukan karena Kaltim memiliki potensi batu bara terbesar di Indonesia,” kata Andy Are saat dihubungi media ini, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, Kalimantan Timur memiliki sumber daya batu bara sekitar 39,32 miliar ton dengan cadangan sekitar 12,84 miliar ton. Besarnya potensi tersebut menjadikan aktivitas pertambangan batu bara sebagai salah satu sektor penting dalam perekonomian daerah maupun nasional.
Andy Are menjelaskan, aktivitas pertambangan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga mencakup kegiatan bongkar muat batu bara, baik di lokasi tambang maupun di perairan melalui mekanisme ship to ship (STS).
“Besarnya aktivitas pertambangan ini tentu memiliki dampak ekonomi yang sangat besar, terutama dalam masalah kegiatan bongkar muat di lokasi tambang maupun kegiatan bongkar muat di perairan atau ship to ship (STS),” jelasnya.
Ia mengatakan, hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penelitian yang dilakukannya. Salah satunya terkait sejauh mana kegiatan bongkar muat memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat sekitar serta bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan yang bersinggungan langsung dengan aktivitas tersebut.
Menurut Andy Are, aspek kepastian hukum menjadi penting karena aktivitas pertambangan batu bara juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui sektor perpajakan.
“Apalagi aktivitas tambang batu bara ini telah menjadi salah satu penopang terbesar untuk pemasukan pajak negara, maka dukungan masyarakat pun tentu sangat dibutuhkan untuk kelancaran aktivitas tersebut,” ujarnya.
Ia berharap keikutsertaannya dalam konferensi internasional tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga memperoleh masukan akademis dari para peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi.
“Mudah-mudahan banyak hal yang bisa didapat untuk masukan dalam pembangunan Kaltim ke depannya,” tutur Andy Are.
Selama ini, Andy Are juga aktif memberikan advokasi dan edukasi kepada masyarakat maupun perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan. Karena itu, penelitian yang dibawanya dalam forum internasional tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif terhadap penyelenggaraan kegiatan pertambangan, khususnya terkait aspek hukum bongkar muat batu bara di Kalimantan Timur.
Dalam kegiatan University Visit 2026 tersebut, STIH IBLAM Jakarta mengirimkan sebanyak 15 mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian di bidang hukum yang telah mereka lakukan.
Hasil penelitian para mahasiswa tersebut nantinya akan mendapatkan masukan, tanggapan, serta pembenahan dari peserta konferensi yang berasal dari berbagai universitas internasional.
Keikutsertaan mahasiswa pascasarjana STIH IBLAM dalam forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperluas wawasan akademis mengenai berbagai persoalan hukum yang berkembang di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. (Edy)


