BALIKPAPAN, Cerdasnews.id — Wartawan senior Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Balikpapan, Herry Trunajaya, membagikan pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik sekaligus mengingatkan pentingnya verifikasi dalam pemberitaan, khususnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPA).
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi kerja sama lintas sektor pencegahan KTPA yang digelar di Aula Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, Selasa (28/4/2026).
Herry mengungkapkan dirinya mulai terjun ke dunia pers sejak akhir 1989-an, tepatnya saat berdirinya harian pagi pertama di Kalimantan Timur, Harian Manuntung.
“Saya mulai masuk ke dunia pers itu di akhir tahun 1989-an, saat berdirinya harian pagi pertama di Kalimantan Timur, Harian ManuntunG,” ujarnya.
Selama lebih dari 30 tahun berkarier, ia mengaku telah banyak menghadapi berbagai peristiwa, termasuk kasus-kasus sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Selama melakoni dunia jurnalis, saya mengalami banyak sekali pengalaman, termasuk memberitakan kasus-kasus yang sangat rawan seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak,” katanya.
Ia kemudian menceritakan pengalaman awalnya saat masih menjadi wartawan muda, ketika terjadi kesalahan dalam pemberitaan akibat kurangnya verifikasi data.
“Waktu itu ada laporan kasus dugaan perbuatan tidak senonoh. Tanpa konfirmasi ke pihak korban, berita langsung dibuat. Besoknya ternyata pihak korban datang dan menyatakan bahwa berita itu tidak benar,” ungkapnya.
Menurutnya, kesalahan tersebut menjadi pelajaran penting bagi insan pers untuk selalu mengedepankan prinsip konfirmasi dan keberimbangan.
“Itu akibat kita tidak melakukan konfirmasi. Akhirnya kami wajib memberikan hak jawab dan melakukan perbaikan berita sesuai porsi yang sama,” jelasnya.
Herry menegaskan, dalam praktik jurnalistik, wartawan memiliki kewajiban moral dan profesional untuk memastikan kebenaran informasi sebelum dipublikasikan.
Ia juga mengingatkan agar wartawan tidak tergoda mengejar sensasi atau viralitas tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.
“Kadang kita tergoda, wah ini kalau diangkat bisa viral, nama kita naik. Tapi kita harus pikirkan dampaknya, jangan sampai merugikan orang lain,” tegasnya.
Selain itu, ia turut membagikan pengalaman meliput kasus kriminal besar di Balikpapan pada masa lalu, yang menurutnya penuh tantangan karena minimnya saksi dan informasi.
“Dulu pernah ada kasus pembunuhan besar di Balikpapan, sangat sulit diungkap karena minim saksi. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami sebagai wartawan,” tuturnya.
Melalui forum tersebut, Herry yang juga menyusun buku sejarah perjuangan di Kota Balikpapan berjudul “Balikpapan 23 November 1945” (2010) dan Kumpulan Cerpen “Gadis Penabur Bunga” (2018), berharap para wartawan, khususnya generasi muda, dapat lebih bijak dan profesional dalam menyajikan berita, terutama terkait isu sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Wartawan harus tetap berpegang pada etika jurnalistik, melakukan verifikasi, dan menjaga keberimbangan agar informasi yang disampaikan benar dan tidak menimbulkan dampak negatif,” pungkasnya.* (Ydar)


