Oleh: Y. Darojatun
SEBELUM AGUSTUS tiba selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Bendera Merah Putih mulai berkibar di halaman rumah, gang-gang dipenuhi umbul-umbul, dan semangat kemerdekaan kembali tumbuh dalam ingatan. Kita mengenang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga agar bangsa ini hidup dalam kebebasan.
Namun, di balik semarak itu, ada pemandangan yang kerap mengusik nurani. Di beberapa sudut Kota Balikpapan, tumpukan sampah masih terlihat menghiasi pinggir jalan, bahu trotoar, bahkan kawasan yang menjadi wajah kota. Aroma tak sedap terkadang menyambut lebih dulu daripada keramahan kota yang selama ini dibanggakan.
Balikpapan bukanlah kota biasa. Kota ini dikenal sebagai Kota Minyak, pintu gerbang Kalimantan Timur, sekaligus penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN). Selama bertahun-tahun, Balikpapan juga menjadi kebanggaan karena berhasil meraih berbagai penghargaan Adipura sebagai simbol keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan.
Karena itulah, setiap tumpukan sampah yang dibiarkan terlalu lama terasa seperti ironi. Penghargaan memang dapat dipajang di ruang kehormatan, tetapi wajah kota sesungguhnya berada di jalan-jalan yang setiap hari dilalui masyarakat.
Sampah memang persoalan klasik. Ia lahir dari aktivitas manusia dan akan selalu ada selama kehidupan berlangsung. Namun yang membedakan sebuah kota maju dengan kota yang tertinggal bukanlah ada atau tidak adanya sampah, melainkan bagaimana sampah itu dikelola.
Ada tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan sistem pengangkutan yang cepat dan pengelolaan yang baik. Ada pula tanggung jawab masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Keduanya adalah mata rantai yang tidak boleh terputus.
Pepatah lama mengatakan, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pesan yang sangat dalam. Menjaga kebersihan bukan hanya soal estetika, melainkan juga penghormatan kepada sesama manusia. Kota yang bersih menghadirkan rasa nyaman, kesehatan, dan martabat bagi warganya.
Sementara itu, kemerdekaan yang setiap tahun kita rayakan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah kemampuan untuk hidup lebih baik, lebih tertib, lebih sehat, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Mungkin sudah saatnya kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih sederhana namun nyata: merdeka dari sampah.
Sebab sampah yang menumpuk bukan hanya mengganggu pemandangan. Ia adalah cermin dari kepedulian yang mulai memudar. Ia adalah pertanyaan yang diam-diam menagih jawaban dari semua pihak.
Mahatma Gandhi pernah berkata, “Masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.” Kutipan itu mengingatkan bahwa kota yang bersih tidak lahir dari pidato, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Begitu pula Bung Karno pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Menghargai jasa para pahlawan hari ini tidak cukup hanya dengan upacara dan perlombaan. Salah satu bentuk penghormatan adalah menjaga negeri yang mereka wariskan, dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal.
Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, semoga semangat gotong royong kembali tumbuh. Pemerintah semakin sigap mengelola pelayanan persampahan, masyarakat semakin sadar menjaga kebersihan, dan setiap sudut Balikpapan kembali menjadi wajah kota yang membanggakan.
Karena sesungguhnya, kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera setinggi langit.
Kemerdekaan juga berarti memastikan tidak ada lagi tumpukan sampah yang merampas keindahan kota.
Sebab kota yang benar-benar merdeka adalah kota yang warganya mencintai lingkungannya, dan pemerintah hadir menjaga amanah itu dengan sepenuh hati. (*)


