Balikpapan, Cerdasnews.id — Kota Balikpapan yang dikenal sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur sekaligus Kota Minyak, kini semakin berkembang pesat. Baru-baru ini, kilang minyak terbesar di Kalimantan Timur bahkan Indonesia telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, Balikpapan juga berperan strategis sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun di balik pesatnya pembangunan tersebut, perhatian terhadap sejarah perjuangan dinilai masih minim. Kota yang memiliki latar belakang sejarah perjuangan panjang dan dramatis ini dianggap belum memberikan penghormatan yang layak kepada para pejuang dan veteran yang berjasa mempertahankan Balikpapan.

Salah seorang tokoh warga Balikpapan, Edy Yudhohandana, dari Lembaga Kaltim Education Watch (KEW) menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, sudah sepatutnya Balikpapan mengabadikan jasa para pejuang sebagai bagian dari identitas kota.
“Kota Balikpapan seharusnya punya penghormatan kepada para pejuang atau veteran, dan itu diabadikan. Paling tidak ada nama veteran atau simbol perjuangan, seperti berdirinya patung atau monumen sebagai bukti bahwa Balikpapan tidak melupakan sejarah,” ujar Edy.
Ia menegaskan, jika kota sebesar Balikpapan tidak mampu memberikan apresiasi terhadap para pejuang, hal tersebut dinilainya sebagai sesuatu yang keterlaluan.
“Kalau Balikpapan tidak bisa memberikan apresiasi terhadap para pejuang, berarti Balikpapan lupa sejarah,” tegasnya.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah kota terkait rencana pengabdian monumen atau penamaan tempat bersejarah untuk menghormati para pejuang veteran Balikpapan.
Sejarah mencatat, Balikpapan baru mengetahui jika Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, setelah tiga bulan kemudian atau pada bulan November 1945. Dan pada bulan tersebut, tepatnya 13 November 1945, Abdul Muthalib sebagai pimpinan Komite Indonesia Merdeka (KIM) di Balikpapan, bertekad untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Lapangan Buruh BPM kala itu.
Namun upaya itu digagalkan penjajah Belanda sehingga Merah Putih tak berhasil dikibarkan. Abdul Muthalib sejak saat itu menghilang dari Balikpapan dan hingga saat ini tak diketahui nasibnya.
Anak cucu pejuang kemudian berharap akan dibangunkan sebuah tugu peringatan di kawasan Karang Anyar, lokasi gagalnya pengibaran Merah Putih oleh pejuang. Namun, tugu yang dibangun di seputaran Pintu V Pertamina saat Balikpapan dipimpin Walikota H Imdaad Hamid kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang, kawasan Balai Gembira dengan adanya proyek besar RDMP Kilang Balikpapan. Hanya saja, tugu yang di depan Balai Gembira kondisinya sangat memperihatinkan.* (Ydar)


