Catatan Pinggir: Y Darojatun
Duh, SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru – asumsi penulis bahwa yang dimaksud adalah penerimaan siswa baru di SMP dan jenjang SLTA, bukan perguruan tinggi) lagi, ya? Bukannya senang menyambut masa depan, malah banyak siswa SD, SMP yang udah pusing tujuh keliling mikirin ini. Soalnya, nggak cuma soal nilai aja yang dipertaruhkan, tapi juga… dompet orang tua!
Sekarang ini, masuk SLTP atau pun jenjang SLTA favorit kayaknya nggak cukup cuma modal nilai bagus. Ada fenomena baru yang bikin miris: jual beli bangku sekolah! Bayangin aja, seharusnya persaingan itu soal kemampuan akademik, eh malah berubah jadi pertarungan uang. Siswa yang berprestasi, tapi orang tuanya nggak mampu, bisa-bisa tergeser oleh siswa yang nilai akademiknya pas-pasan, tapi punya orang tua yang berduit.
Ini bukan cuma soal ketidakadilan, tapi juga merusak sistem pendidikan kita. Nilai akademis jadi nggak lagi jadi tolok ukur utama. Yang penting duitnya cukup, bisa masuk sekolah impian. Nggak heran kalau banyak siswa yang merasa frustasi dan putus asa. Mereka belajar keras, tapi tetap kalah saing sama yang punya uang lebih.
Fenomena ini juga menimbulkan beberapa pertanyaan besar:
– Kemana perginya keadilan? Sistem pendidikan seharusnya memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Tapi, realitanya, sistem ini justru memperparah kesenjangan sosial. Seakan kebijakan meracuni aturan.
– Apa peran sekolah? Apakah sekolah-sekolah favorit ini ikut bertanggung jawab atas praktik jual beli bangku ini? Harusnya kan mereka lebih ketat dalam seleksi dan pengawasan.
– Bagaimana masa depan pendidikan? Kalau terus begini, anak-anak kita akan belajar untuk mengejar uang, bukan ilmu. Nilai-nilai kejujuran dan sportifitas akan terkikis habis.
Solusi? Tentu saja nggak mudah. Butuh kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga siswa itu sendiri. Pemerintah harus lebih tegas dalam mengawasi dan menindak praktik jual beli bangku ini. Sekolah harus lebih transparan dalam proses penerimaan siswa dan memprioritaskan prestasi akademik sesuai Pergub, Juknis dan Permendiknas yang mengatur SPMB. Orang tua juga harus bijak dalam mendidik anak, mengajarkan bahwa kesuksesan bukan hanya soal uang. Dan yang terpenting, siswa harus tetap semangat belajar, jangan sampai putus asa karena situasi yang nggak adil.
Semoga, SPMB kedepannya bisa lebih bermartabat, sebuah seleksi yang benar-benar menilai kemampuan, bukan isi dompet. Semoga keadilan ini cepat kelar, Aamiin!***


