Catatan Tepi Jalan – Y Darojatun
Cerdasnews.id — LANGKAH Inyong adalah sebuah ritme yang monoton, sebuah metronom bagi kemiskinan yang setia. Di bawah langit Balikpapan yang memanggang, aspal bukan lagi sekadar jalan, melainkan kawah yang menguapkan sisa-sisa keringat terakhirnya.
Inyong tak mengeluh; baginya, rasa haus adalah kawan lama yang selalu mengetuk tenggorokan setiap kali ia melewati kilang-kilang minyak yang gagah menjulang monumen kekayaan yang hanya bisa ia pandang dari balik pagar kawat.
Harapan Inyong sederhana, sesederhana selembar kertas lusuh di saku celananya: sebuah alamat kontak untuk pekerjaan buruh kasar yang dijanjikan seorang kawan. Demi alamat itu, ia rela menantang terik yang sanggup meretakkan kulit.
Teguran dari Langit
Ketika awan mendung mulai menggantung rendah, Inyong sempat merasa itu adalah belas kasihan alam. Ia menengadah, membiarkan lehernya yang kaku merasakan embusan angin yang sedikit mendingin.
“Tunggu sebentar lagi, sedikit lagi,” bisiknya pada kakinya yang mulai gemetar.
Namun, Balikpapan sore itu tidak sedang ingin bercanda. Mendung itu bukan payung, melainkan pemberat yang menyesakkan dada. Kota ini, yang dalam mimpinya adalah hamparan emas, terasa kian asing dan menghimpit.
Bangunan-gedung tinggi tampak seperti raksasa yang menertawakan sandal jepitnya yang kian menipis, nyaris menyatu dengan panasnya jalanan.
Tepat di persimpangan menuju jalan besar, saat bayangan harapannya terasa tinggal selangkah lagi, sebuah truk tangki besar menderu lewat, menyisakan jelaga hitam yang menyesakkan paru-paru Inyong yang sudah kerontang.
Pandangannya mengabur.
Inyong tersungkur. Bukan karena ditabrak, melainkan karena tubuhnya telah mencapai batas absolut dari sebuah perjuangan yang tak dihargai zaman. Kepalanya membentur tepian trotoar yang kasar aspal yang sedari tadi ia susuri kini menjadi bantal terakhirnya.
Di saat kesadarannya perlahan padam, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Bukan hujan yang menyejukkan, melainkan hujan tropis yang kasar dan buta.
Air hujan itu menyapu kertas alamat di saku Inyong, melunturkan tinta murah hingga menjadi coretan hitam tak bermakna.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, memacu kendaraan mereka lebih cepat, tak ada yang menyadari sesosok tubuh yang kian dingin di antara genangan air dan ceceran oli.
Inyong akhirnya mendapatkan istirahatnya, namun bukan di atas kasur empuk hasil kerja kerasnya, melainkan dalam pelukan aspal Balikpapan yang tak pernah seramah bayangannya.
Di kota yang katanya menjanjikan masa depan, Inyong hanyalah sebuah titik kecil yang dihapus oleh hujan, sebelum sempat menuliskan namanya di sana.***


