BALIKPAPAN, Cerdasnews.id – Harga jual rumah baru di Kota Balikpapan pada triwulan II 2026 mengalami kenaikan terbatas. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat 107,58 atau tumbuh 1,19 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut melandai dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,44 persen (yoy).
Kepala KPwBI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, kenaikan harga rumah baru terutama didorong meningkatnya harga rumah tipe menengah. Sementara kenaikan harga rumah tipe kecil dan besar cenderung melandai.
“Terbatasnya kenaikan harga jual rumah baru tersebut tidak terlepas dari perkembangan permintaan yang juga masih cenderung terbatas,” kata Robi Ariadi.
Ia menjelaskan, harga rumah juga dipengaruhi kenaikan harga bahan bangunan dan biaya tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong pengembang melakukan penyesuaian harga jual untuk mengompensasi peningkatan biaya pembangunan.
Pada triwulan II 2026, harga rumah tipe menengah tumbuh 0,46 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,38 persen. Sedangkan tipe besar tumbuh 2,02 persen dan tipe kecil 1,71 persen, masing-masing lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,93 persen dan 1,85 persen.
Dari sisi penjualan, sebanyak 75 unit rumah baru terjual dari 30 pengembang selama triwulan II 2026. Angka tersebut sedikit membaik dibandingkan triwulan I yang mencatat 72 unit.
Namun secara tahunan, volume penjualan masih mengalami tekanan. Penjualan rumah baru pada triwulan II 2026 turun 50,66 persen (yoy), meski membaik dibandingkan penurunan triwulan sebelumnya sebesar 55,56 persen.
Perbaikan terutama terjadi pada tipe kecil dan besar yang masing-masing mengalami penurunan penjualan 53,57 persen dan 38,46 persen secara tahunan. Sementara penjualan tipe menengah justru turun lebih dalam sebesar 52,38 persen.
Secara kuartalan, penjualan tipe kecil tumbuh 8,3 persen dan tipe menengah 17,6 persen. Tipe besar masih turun 15,8 persen, tetapi penurunannya lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 29,6 persen.
Komposisi penjualan masih didominasi rumah tipe kecil sebesar 52 persen, disusul tipe menengah 27 persen dan tipe besar 21 persen. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen Balikpapan masih cenderung memilih rumah dengan harga lebih terjangkau.
Dari sisi pembiayaan, KPR masih menjadi pilihan utama. Sebanyak 72 persen pembelian rumah baru menggunakan KPR, sedangkan tunai bertahap 24 persen dan tunai 4 persen.
Penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan II 2026 mencapai Rp5,01 triliun atau tumbuh 2,27 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp5 triliun atau tumbuh 1,87 persen. Kualitas kredit juga masih terjaga dengan tingkat NPL di bawah 5 persen.
Sementara itu, harga properti komersial relatif stabil. Hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) mencatat IHPK sebesar 105,70 atau turun tipis 0,02 persen (yoy).
Robi menyebut aktivitas ekonomi, konstruksi IKN, hilirisasi industri, serta penyelesaian revamp Kilang Pertamina Balikpapan turut menopang aktivitas properti komersial.
“Ke depan, prospek sektor properti masih positif seiring berlanjutnya proyek hilirisasi industri yang memasuki tahap persiapan operasional,” ujarnya.
Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), untuk mendorong penyaluran kredit sektor prioritas, termasuk perumahan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemulihan sektor properti secara berkelanjutan.*


