Bagian akhir Menyusuri Benang Merah Semburan Lumpur dan Gas di Kota Juang Sanga Sanga pada Kamis dini hari, 19 Juni 2025
PERTAMINA EP Sanga Sanga saat ini memproduksi minyak mentah 8.600 barel per hari. Dengan perhitungan sederhana di daerah ini menghasilkan sedikitnya 644.398 dolar perhari. Celakanya di sana hanya ada satu SD, satu SMP, satu SMA dan satu SMK negeri.
“Sebagai sentra minyak mentah, Sanga Sanga layak punya perguruan tinggi perminyakan,” kata Sugandha, salah seorang warga asli Sanga Sanga, akhir pekan tadi ketika berbincang dengan sejumlah wartawan.
Secara administratif Sanga Sanga berdiri pada tahun 1949, menjadikannya kecamatan pertama di luar Pulau Jawa dan Pulau Sumatra yang berdiri secara administratif. “Sanga Sanga ini selain kota Juang harusnya menjadi kota utama di Kalimantan Timur, karena potensi sumberdaya alamnya,” tegas Sugandha.
Sayangnya, menurut Sugandha peran pertamina tidak maksimal dalam membangun Sanga Sanga. “Sumberdaya alamnya hanya sebagian kecil yang dinikmati oleh warga asli. Saya yakin bisa lebih dari Balikpapan sebagai kota minyak jika ditangani dengan baik. Untuk itu, Sugandha dan sekelompok warga asli Sanga Sanga akan memperjuangkan agar kota kecil penghasil 36, 64 persen minyak bumi Indonesia ini untuk jadi lebih baik,” katanya.
Saat ini, jika harga satu barel minyak mentah Brent pada 24 Juni 2025 berada di kisaran US$ 67,90 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada 22 Juni 2025 tercatat di 74,93 USD per barel. Harga ini terus berubah karena faktor pasar internasional dan kebijakan negara produsen.
“Kami berharap Pertamina lebih terbuka atas hak CSR dan laba BUMN 2,5 persen diwujudkan dalam pembangunan fisik dan sumberdaya manusia,” kata Sugandha seraya melanjutkan Sanga Sanga akan menjadi kota yang lebih baik. Misalnya dengan mengembangkan kota itu sebagai kota sejarah dengan bangunan dan sumberdaya manusia akan menghidupkan Kalimantan Timur.
Pertamina Hulu Sanga Sanga menurutnya, sudah melaksanakan dan berhasil dengan upaya yang sungguh-sungguh dari seluruh pihak untuk menerapkan praktik terbaik dalam pengelolaan proyek-proyek hulu migas. “Hanya saja pemberdayaan yang berbasis masyarakat lokal perlu dirumuskan kembali bersama sama agar lebih focus dan terarah,” ujar dia.
Harus ada perencanaan program yang lebih terarah. ”Jangan sampai kelak, Sanga Sanga tinggal kenangan dan makin kurus, jika potensi Migasnya telah habis. Sanga Sanga harus jadi kota mandiri berkelanjutan,” tandas Sugandha.
PERTAMINA REFORMASI
Pertamina menghadapi desakan untuk melakukan reformasi struktural dan perombakan manajemen sebagai respons terhadap kasus mega korupsi yang merugikan negara dan mengikis kepercayaan publik, dengan tujuan memulihkan citra perusahaan dan meningkatkan tata kelola energi nasional yang lebih transparan dan efisien. “Kami sangat menghargai sikap reformis Pertamina, alangkah baiknya jika hal penting seperti sumberdaya manusia dan lingkungan dipertegas dengan menyusun program melibatkan masyarakat lokal. Sanga Sanga jangan makin kurus karena kesewenangan Pertamina dalam pengelolaan Migas tunggal,” ujar dia.
Reformasi Tata Kelola Migas, misalnya. Pertamina menjadi titik balik untuk melakukan reformasi tata kelola migas di Indonesia secara menyeluruh, mulai dari aspek regulasi hingga transparansi korporasi. Tujuannya adalah menciptakan industri migas yang lebih transparan, efisien, dan bebas dari mafia, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.
Menurut Sugandha dampak monopoli Pertamina di pasar energi juga menjadi sorotan, di mana masyarakat tidak memiliki pilihan selain menggunakan produk Pertamina meskipun kualitasnya belum ideal.
Reformasi yang dijalankan dengan sungguh-sungguh diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik dan mitra bisnis, menjaga stabilitas Pertamina, serta membawa dampak positif pada kesejahteraan rakyat melalui sistem yang lebih bersih dan transparan, “Mungkin focus pada harga bahan bakar yang lebih terjangkau, dan penguatan ketahanan energi nasional,” katanya.*# (Tim)


