BALIKPAPAN, Cerdasnews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mencatat peningkatan sejumlah penyakit saluran pernapasan selama Agustus 2026. Kenaikan terjadi di tengah kondisi kemarau dan munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, mengatakan paparan asap karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama saat terjadi kabut asap akibat karhutla. Jangan menganggap sepele paparan asap karena dapat mengganggu saluran pernapasan,” kata Alwiati.
Data Dinkes menunjukkan kasus acute nasopharyngitis atau common cold (J00) meningkat dari 5.861 kasus pada Juli menjadi 6.280 kasus pada Agustus, atau naik 419 kasus (7,2 persen).

Kasus acute pharyngitis (J02) juga naik dari 1.714 menjadi 1.966 kasus, bertambah 252 kasus atau 14,7 persen.
Sementara itu, peningkatan tertinggi terjadi pada acute upper respiratory infection, unspecified (J06.9), dari 1.136 menjadi 1.361 kasus. Angka tersebut meningkat 225 kasus atau 19,8 persen.
Mengantisipasi dampak kabut asap, Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan penting. Warga yang harus beraktivitas di luar diminta menggunakan masker dengan baik.
“Kalau tidak ada keperluan yang penting, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker dengan baik untuk mengurangi paparan asap,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih, menjaga asupan makanan bergizi, menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta rutin mencuci tangan.
Dinkes mengingatkan warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan seperti batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau gangguan pernapasan.
“Jika sudah mulai muncul keluhan seperti batuk, sakit tenggorokan atau gangguan pernapasan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat,” tegas Alwiati.
Selain menjaga kesehatan, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas yang berpotensi memicu karhutla dan memperburuk kualitas udara. (Edy)


