Oleh: Sunarto Sastrowardojo, Aditia RL
CerdasNews.id — TIBA TIBA saja, saya ingat masa kecil menyusuri jalan beraspal sepi menuju pelabuhan Balikpapan bersama teman teman Esde berburu belut di sepanjang Jalan Yos Sudarso itu. Kiri kanan jalan, waktu itu masih lebar, berem kiri kananya masih gundukan gundukan yang ditumbuhi rumput tertata rapi.
Bahkan saat malam hari, kami sering datang ke depan Kantur Pembantu Gubernur, mungkin di sekitar KPU atau perumahan jaksa hanya untuk menikmmati cahaya lampu. Maklum lampu listrik di rumah kami merupakan hal termewah waktu itu. Jadi sambal melempar pancing saat air pasang naik, kami menikmati cahanya lampu listrik di sepanjang Jalan Yos Sudarso yang sekarang lebih popular dengan sebutan nama Melawai.
Entah mengapa nama Melawai itu jadi nama lain Jalan Yos Sudarso dan populer, padahal kawasan itu tidak ada kesamaan dengan kawasan Melawai, Taman Kota Peruri yang ramai karena pemancing keramaian dengan adanya Melawai Plaza, dekat Blok M Jakarta di tahun 80an.
Faktanya nama Melawai membubung sangat tinggi seolah menghapus nama Jalan Yos Sudarso. Fakatanya pula warga Balikpapan, ana kanaka milenial, menyebut kata yang terdiri dari tujuh huruf itu. Bahkan warga tua Balikpapan seusia saya pun menyebutnya juga begitu.
Padahal di sana tidak ada pusat pusat penarik perhatian seperti Plaza Melawai taman kota Peruri dan ruang terbuka hijau yang memang artistik di zamannya. Gedung Peruri adalah tempat jin mencetak uang di kawasan itu. Perum Peruri didirikan oleh pemrintah Indonesia pada 15 September 1971.
Coba bayangkan Melawai Balikpapan itu, setiap malam ribuan anak anak Balikpapan berkumpul menikmati kopi dan makanan kecil dari kuliner kecil. Ternyata mereka menikmati pantai. Ada semacam kenyamanan tak terlihat ketika berinteraksi dengan angin pantai. Damai dan nyaman. Itu sebabnya petugas keamanan sering memperingatkan jika waktu sudah melebihi batas untuk berada di luar ruangan.
Padahal issue utama Balikpapan yang diwarnai dengan abrasi pantai pencemaran, ekosistem pantai terancam akibat urbanisasi cepat di Balikpapan. Minim ruang hijau pesisir untuk regenerasi ekosistem alami.
Belum lagi termasuk kurangnya ruang publik berkualitas di Balikpapan Pantai di kota seringkali tidak nyaman untuk publik seperti akses buruk, kotor, fasilitas minim. Balikpapan belum punya iconic waterfront space yang jadi wajah kotanya.
Potensi wisata laut, kuliner pesisir, eco-tourism, dan bisnis waterfront belum dikembangkan secara profesional dan berkelanjutan. Garis pantai teluk Balikpapan dari kota Balikpapan hingga kabupaten penajam paser utara). Merupakan area yang belum optimal pengembangannya.
Coba bayangkan di era yang menggali habis potensi wisata, persaingan Kota Regional atau kota Kota lain di Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand dan Malaysia sedemikian cepat berkembang seolah tak terbentung, terlebih dulu mengembangkan waterfront urban sebagai daya tarik investasi dan pariwisata. Potensi teluk Balikpapan sangat besar selain alami, faktor pengembangan akibat dampak pembangunan IKN juga sangat besar.
Belum lagi persoalan global yang juga berdampak terhadap Balikpapan. Kota ini tidak akan berarti apa apa di kancah Asia Tenggara padahal memiliki potensi. Mungkin karena masyarakat skeptis termasuk pemerintah Kota Balikpapan yang tidak inovatif mengembangkan kota kecil ini. Padahal Tantangan perubahan iklim global berupa kenaikan permukaan laut sangat mengacam kota pesisir. Artinya Balikpapan perlu solusi pesisir tahan iklim atau, coastal resilience.
KotaKecil Tapi Potensi Besar
Coba simak ini. Potensi besar Balikpapan karena memiliki lokasi geografis yang strategis sebagai konektifitas ekonomi Kalimantan dan gerbang utama menuju Ibukota Nusantara, IKN. Garis pesisir pantainya panjang dengan Karakter Natural. Ini yang saya sebut berpotensi menjadi waterfront urban alami, beda dari kota-kota megapolitan lain di Jawa dan Sumatra yang kaku.
Pertumbuhan ekonomi waau tidak terlalu baik, akan tetapi Balikpapan memiliki demand untuk destinasi lifestyle, leisure, dan hospitality naik seiring pertumbuhan ekonomi baru dengan hadirnya IKN.
Belum lagi momentum isu dunia saat ini Sustainability-Green City. Dunia dan investor semakin fokus pada ESG atau Environmental, Social, Governance). Waterfront ramah lingkungan adalah magnet besar untuk branding kota modern.
Di kalangan anak anak muda milenial saya sering menyebut Urban Blue Green Gateway yang bisa menjadikan Balikpapan sebagai Gerbang Biru Hijau Asia Tenggara. Menurut saya, sih layak mengembangkan ekonomi maritime, pariwisata alam dan hutan berkelanjutan. Ide besarnya membentuk koridor kota baru yang menghubungkan laut, sungai, dan kota, menjadi living corridor untuk bisnis, budaya, dan inovasi berbasis alam.
Strategi Pengembangan
Lingkungan: Coastal Regeneration Infrastructure. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kekuatan alami pesisir dalam melindungi kota dari abrasi dan banjir, menyediakan ruang hijau biru (blue-green spaces) yang meningkatkan kualitas hidup, membuat waterfront lebih resilient, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi, dan meningkatkan nilai properti dan branding kota Balikpapan melalui keindahan alami yang terintegrasi.
Saya malah bermimpi Balikpapan merestorasi Ekosistem Mangrove, Coastal Dune Garden, Taman Gumuk Pasir Buatan, Smart Eco-Water Management, Floodable Coastal Park, Living Breakwater atau pemecah gelombang hidup, Taman Pesisir Biodiversitas
Di aspek sosial harusnya dibentuk Community-Centered Waterfront oleh kelompok masyarakat sebagai timbal balik penghuni Balikpapan, jika pemerintahnya benar benar menghargai potensi kota kecil ini.
Aspek ekonomi. Coastal Business Activation. Strategi ini untuk membuat kawasan Balikpapan produktif secara ekonomi tanpa merusak karakter alamnya, menarik minat dan investasi sektor swasta: F&B, hospitality, retail, rekreasi, eco-tourism, membuka peluang usaha untuk warga lokal: UMKM, kreatif lokal, bisnis berbasis maritime, meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata dan property, menciptakan kawasan yang hidup. Pagi, siang, sore, malam. (Aditia RL, Sunarto Sastrowardojo)


