Oleh: Darojatun
SETIAP PAGI, sebelum mata benar-benar terbuka, jari-jari kita sudah lebih dulu menyapa layar. Berita datang berlarian seperti hujan di musim angin. Ada yang membuat kagum, ada yang menyesakkan dada, bahkan tak sedikit yang menghadirkan rasa takut. Dunia media sosial memang seperti lautan luas; ombaknya cepat, suaranya riuh, dan kadang sulit dibedakan mana air jernih dan mana gelombang keruh.
Di zaman ini, kabar bisa lahir hanya dalam hitungan detik. Seseorang menulis, yang lain membagikan, lalu ribuan mata mempercayainya tanpa sempat bertanya: “Benarkah ini?” Di situlah kita sering lupa, bahwa tidak semua yang ramai adalah nyata, dan tidak semua yang viral adalah kebenaran.
Namun di balik derasnya arus informasi, sesungguhnya manusia tetap memiliki hati dan akal sebagai pelita. Kita diberi kemampuan untuk memilah, menimbang, lalu memahami sebelum memutuskan percaya. Karena berita yang benar bukan hanya tentang siapa paling cepat menyampaikan, melainkan siapa yang paling jujur menghadirkan fakta.
Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk bersuara. Itu adalah wajah baru demokrasi digital. Tetapi media mainstream hadir dengan satu hal yang tidak boleh hilang: proses verifikasi. Ada tahapan, ada konfirmasi, ada tanggung jawab moral sebelum sebuah berita dipublikasikan. Sebab kata-kata yang dilempar ke ruang publik bukan sekadar tulisan, melainkan dapat memengaruhi pikiran, perasaan, bahkan kehidupan banyak orang.
Masyarakat yang bijak bukanlah mereka yang menolak media sosial, melainkan mereka yang mampu menggunakan media sosial dengan dewasa. Membaca tanpa mudah marah, menyimak tanpa mudah percaya, dan membagikan tanpa menebar luka. Karena satu klik yang kita lakukan kadang bisa menjadi cahaya informasi, tetapi kadang juga dapat menjadi api yang membakar ketenangan.
Hari ini dunia berubah sangat cepat. Media sosial dan media mainstream saling menunjukkan kekuatannya masing-masing. Tetapi di tengah semua itu, yang paling penting bukan siapa yang paling ramai, melainkan siapa yang paling menjaga nurani.
Maka ajakan untuk “Mari Bijak Bermedia Sosial” bukan sekadar slogan yang lewat di baliho atau layar ponsel. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap berita ada tanggung jawab, dan di balik setiap jempol yang menekan tombol “bagikan”, ada dampak yang akan sampai kepada banyak hati.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan informasi. Manusia juga membutuhkan kebenaran, ketenangan, dan rasa saling menjaga dalam ruang digital yang semakin luas ini. (Balikpapan, 17 Mei 2026)


